#saveUI: Perbaiki Salah Tata Kelola UI

Depok (12/9) - Auditorium Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom UI) dipenuhi civitas akademika UI dan wartawan media cetak maupun siar. Perwakilan beberapa pihak seperti dekan Fakultas Kedokteran, dosen Ilmu Komunikasi, paguyuban pekerja UI,dan mahasiswa menggelar aksi pembeberan fakta tentang salah kelola UI selama ini. Aksi ini bukan bertujuan untuk menggulingkan rektor, namun sebagai upaya mencapai tata kelola yang lebih baik.
Ade Armando, dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip UI), menyebutkan acara siang itu tidak bertujuan untuk menjatuhkan salah satu pihak tetapi untuk pembeberan fakta demi kebaikan civitas akademika UI. Dalam acara tersebut, Ade memaparkan fakta penggunaan dana masyarakat, antara lain yang berasal dari uang SPP mahasiswa, untuk pembelian pakan hewan peliharaan di rumah dinas rektor UI. Ade juga mengungkapkan bahwa pembelian pakan hewan ini pernah pula dianggarkan dengan keterangan “pengadaan konsumsi rapat di PAUI” yang bernilai 6.950.000.
Fakta lain yang diungkap Ade adalah rektor UI pernah membayar biaya penulisan wawancara utama delapan halaman di sebuah majalah senilai 44 juta rupiah. “Hal ini tentu mencoreng independensi media. Media tidak boleh dibayar untuk pencitraan, kecuali jika dia beriklan”, kata Ade. Menurutnya, fakta-fakta tersebut membuktikan fungsi audit internal tidak efektif.
Selain Ade Armando, ketua paguyuban pekerja UI, Irwansyah yang akrab disapa Jemi, juga mengemukakan pandangannya terhadap carut marut tata kelola UI. Menurutnya, selama bertahun-tahun status pekerja UI masih terkatung-katung sehingga kesejahteraanya tidak terjamin secara baik. “Tata kelola yang baik, sehingga status pekerja UI juga jelas!”, ujar Irwansyah.
Dekan Fakultas Kedokteran UI (FK UI), Ratna Sitompul, juga membeberkan fakta-fakta lain, terutama yang terkait dengan kegiatan akademik FK UI. Menurutnya, kurang transparannya sistem keuangan sentralisasi akhirnya menghambat kegiatan riset di FK. Beberapa kali dana riset tidak sampai ke tangan peneliti sesuai dengan nominal yang dijanjikan. Proses pencairan dana yang berbelit-belit juga menyebabkan dana tak kunjung cair.
Ratna menyatakan, “Katanya kita ingin menjadi world class university berbasis riset, namum jika dana riset saja sulit, bagaimana kita bisa mencapai target peneltian.” Ratna menambahkan, akhirnya tak jarang peneliti menutupi kekurangan dana penelitian dengan uang pribadi mereka. Jika dibiarkan terus menerus, hal tersebut ditakutkan mempengaruhi keinginan peneliti untuk terus berkarya. “Fakta ini sekaligus membantah isu yang menyebutkan bahwa FK tidak rela melepas jabatan rektor,” kata Effendi Ghazali yang hadir sebagai moderator.
Tidak hanya dosen yang mengungkapkan aspirasinya, mahasiswa juga menyampaikan pandangannya pada kesempatan ini. Maman Abdurrahman, ketua BEM UI menjelaskan bahwa semua pihak harus mengawal rapat paripurna Majelis Wali Amanat (MWA) pada Rabu (14/09) mendatang. Pada rapat paripurna tersebut, Rektor UI akan diinta pertanggung jawaban atas semua tindakannya.
Pada akhir kegiatan tersebut, ketua BEM Fakultas Ekonomi, Dzulfian, menyerukan ajakan mogok kuliah mulai Selasa (13/9) hingga sepekan ke depan. “Kami menyerukan mogok kuliah bagi mahasiswa UI di 12 fakultas dan vokasi. Kami menolak adanya intimidasi terhadap mahasiswa dan menginginkan adanya segera penyelesaian masalah tata kelola UI,” kata Dzul yang akrab disapa Ijul.
Pada kesempatan itu, sebuah kotak sumbangan bertuliskan “kotak sumbangan agar anjing dan ikan rektor tidak makan uang SPP” diedarkan di ruangan sebagai bentuk perlawanan terhadap salah kelola UI.
(Annisa Khairani dan Reno Dalu Maharso)
